[Review] Kekasih Terbaik by. Dwitasari

[Review] Kekasih Terbaik by. Dwitasari


Judul : Kekasih Terbaik

Penulis : Dwitasari

No. ISBN : 9786020900148

Jumlah halaman : 264

Penerbit : Loveable

Tanggal Terbit : November 2014

.

.

Kekasih Terbaik – menjamin kebahagianmu, merahasiakan cintamu dan berusaha ada ketika kau butuh.

Zera dan Yoga, mereka sudah bersama sejak bisa berbicara dan bisa menulis. Kebersamaan yang mengikat mereka pada sebuah Persahabatan. Tidak ada yang lebih kenal Zera dengan semua obsesinya terhadap panggung pentas musikal dan puisi – puisi klasik selain Yoga. Tidak ada yang bisa memahami betapa cintanya Yoga pada computer dan semua aktivitas hacknya selain Zera. Mereka saling melengkapi satu sama lain, tentunya sebagai Sahabat.

Sahabat? Ya, Yoga menganggap mereka berdua adalah sepasang sahabat. Tapi sayangnya, perasaan lain muncul dalam hati Zera. Zera pelan – pelan menyadari bahwa dia amat mencintai Yoga.

Karena cintanya pada Yoga, dia bahkan menolak mentah – mentah cinta Doni yang tulus untuknya. Dan sekali lagi karena cintanya pada Yoga, Zera harus menahan beribu sakit dihati ketika menyadari sudah ada wanita lain disamping Yoga –Tasya.

Apa yang akan dilakukan Zera? Apa dia akan terus menunggu kekosongan Yoga kemudian masuk? Atau melangkah pergi mencari tempat kosong lain yang berarti juga mengubur cintanya untuk Yoga?

.

.

Sahabat jadi cinta. Tema ini emang gampang banget buat diangkat jadi novel. Kenapa? Karena banyak kejadian didunia nyata, jadi pembaca bisa dengan mudah membayangkan seperti apa kondisinya, terutama buat mereka yang pernah ngalamin. Tapi ada tantangan lainnya juga. Karena ini tema yang udah banyak terjadi dan mudah, authornya harus pinter – pinter ngerawat alur ceritanya biar ga jadi pasaran, basi, lebay dan biasa aja. Nah, untuk kasus novel Kekasih Terbaik ini menurut aku Dwitasari sebagai penulisnya ga terlalu sukses untuk melewati tantangan ini.

Jujur aku struggle banget baca novel ini. Kenapa?

Disini penulis terlalu menekankan rasa sakit hati Zera, hampir setiap halaman pasti ada penggambaran betapa sakitnya si Zera yang lama – lama tentu bikin kita cape sendiri bacanya. Mungkin disini Penulis pengen bikin ceritnya ga basi dengan penggambaran sakit hati Zera kedalam paragraph cantik, tapi…. Entah kenapa aku malah sering lewatin paragraph – paragraph itu karena CAPE.

Kemudian sinkronisasi satu kejadian sama kejadian lain agak gak masuk akal dan terkesan dipaksakan. Entahlah, aku ngerasanya cerita ini ga ngalir dan kaya kepentok – pentok gitu. Contohnya aja yang terkesan maksa, dari awal sampe ¾ cerita digambarin Zera yang sakit hati gara-gara cinta tak sampainya ke Yoga, pokoknya hampir isi novel ini isinya tentang cinta Zera ke Yoga, tapi dengan mudahnya tiba – tiba Zera nerima Doni gitu aja. Mungkin bisa dibilang ga gitu aja, soalnya Doni sempet ngungkapin perasaannya ke Zera sebelumnya. Tapi menurut aku perpindahan perasaan Zera ini kaku jadinya. Cinta mati ke Yoga, karena lukisan Doni akhirnya mereka pacaran. Buat nangkalin ini aku mikir, oke mungkin Zera mau move on, tapi setelah mereka jadian penggambaran perasaan Zera seakan-akan dia pacaran sama Doni tuh sosok cinta yang Zera harapkan. This is too obvious.

Lagi kekurangan novel ini dari segi penulisan. Masih banyak banget typo bertebaran. Editornya gimana nih. Selain typo banyak juga penggunaan kata yang ga pas, ngefek ke kalimat percakapan jadi KAKU. Kesannya mereka bukan orang Indonesia, tapi kaya warga asing yang baru lancar bahasa Indonesia. Kebayang gimana?

Satu lagi, ENDING novel ini terlalu dramatis. Jujur 260 halaman aku baca novel ini sama sekali ga dapet apa yang pengen penulis sampaikan. Endingnya maksa dan terlalu didramatisir. Padahal bakal lebih manis kalo endingnya simple tapi berkesan. Sampai halaman terakhir aku bertanya – tanya ‘jadi seperti apa kekasih terbaik itu?’ soalnya ga ada nempel di karakter siapapun. Baik itu di Zera, Yoga, Doni ataupun Tasya. Yang aku dapet dari novel ini Cuma, cinta itu penuh kesakitan.

Sayang sekali.

Tapi, sebuah cerita pasti ada plus minusnya. Setelah dijabarin apa aja kurangnya, novel ini juga ada beberapa kelebihannya.

Aku suka cara penulis membangun karakter Zera dengan semua obsesinya pada novel sastra, musik queen, panggung pentas dan puisi. Kenapa? Karena pasti penulis harus observasi dulu biar ga salah pas ditulis kedalam hobi si Zera. Meski penjelasan setiap hobi Zera ga terlalu detail tapi cukup buat gambarin kalo Zera itu anak yang maniak Sastra.

Ini juga berlaku sama Doni, seorang pelukis yang terobsesi dengan Picaso. Pasti penulis juga searching dulu untuk semua lukisan picaso, cerita dibalik lukisan, bahkan kisah hidup Picaso. Ini juga patut diberi tepuk tangan.

Apa lagi? aku suka juga penulis membubuhkan kalimat – kalimat manis. Dinovel ini banyak banget kalimat yang menurut aku bagus buat jadi quote. Ini salah satu favoritku :

‘Dua perempuan yang mencintai lelaki yang sama, mereka jika jauh maka akan sangat jauh, jika dekat maka mereka akan sangat dekat’

Dari semua kalimat manis di novel ini, aku suka banget kalimat ini.

.

.

Oke, itu sedikit review buat novel Kekasih Terbaik yang masih aku pertanyakan seperti apa kekasih terbaiknya mereka itu. Kesimpulan novel ini, aku ga terlalu rekomendasiin novel ini. Kenapa? Ya atas alasan – alasan sebelumnya itu. Tapi buat yang lagi gagal move on mungkin bisa baca ini biar makin galau.

Rate : 4 of 10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s