[Review] Berlayar ke Surga by. Ramadha Tsulatsi Hajar

[Review] Berlayar ke Surga by. Ramadha Tsulatsi Hajar


Judul : Berlayar ke Surga

Penulis : Ramadha Tsulatsi Hajar

No. ISBN : 9786029787849

Jumlah halaman : 302

Penerbit : Najah – Divapress

Tanggal Terbit : Juli 2011

.

.

Dibelahan bumi manapun kita berada, langit adalah jendela pertemuan kita dengan semua orang didunia ini. Langit di Jagat Raya ini hanya satu, meskipun berlapis – lapis. Oleh karena itu, dimanapun kita berada langit dapat menghubungkan kita dengan semua orang, terutama orang yang kita rindukan.

.

Iqbal. Lelaki berprestasi, mahasiswa ITB jurusan Teknik Nuklir yang menerima beasiswa penuh disana. Tapi, dengan berat hati dia harus rela cuti dari kuliahnya selama satu semester untuk kembali ke kampung halamannya Aceh. Sudah setahun sejak berlalunya tsunami yang meluluh lantahkan kampung halamannya. Ibunya meninggal, namun jasad ayah dan adiknya ternyata dinyatakan hilang. Karena kabar inilah secercah harapan muncul di hati Iqbal, berharap bahwa dua anggota keluarganya masih hidup.

Berkelana di Aceh dengan uang pas – pasan, membuat Iqbal harus jatuh bangun. Satu sinar harapan muncul, ketika Iqbal bertemu dengan sahabat adiknya.

“Adik abang Sukma masih hidup bang,”

Mendengar adiknya selamat, Iqbal seakan mendapatkan kembali semangat untuk hidup. “Bapaku?”

“Bapak abang terbawa hanyu kelaut waktu nyelametin Sukma,”

“Terus dimana Suka sekarang?”

Iqbal antara mencicip manis dan pahit bersamaan saat mendengar adiknya masih hidup tapi kenyataan sang ayah sudah tiada. Tapi, semua kembali hancur ketika Iqbal tahu bahwa adiknya Sukma, dibawa penadah anak dan dibawa kapal keluar Aceh untuk dijual.

Habis sudah hidup Iqbal.

Apa yang akan dia lakukan? Menggeledah seluruh Indonesia? Bagaimana kalau adiknya dijual keluar negri?

.

.

Sukma hanya bisa berdoa pada sang pencipta untuk kelangsungan hidupnya. Bersama anak lainnya, Sukma berada didalam kapal yang katanya akan membawa mereka keluar aceh.

Luar aceh? Dimana itu?

Ternyata gerombolan penculik itu membawa Sukma dan anak lainnya ke Manado untuk dijual. Manado?

Habislah pengharapan Sukma, semakin jauh dia dengan sang kakak. Keluarga satu – satunya yang dia miliki.

“Bang Ijaz, Sukma kangen,”

“Sudah Sukma, nanti sampe Manado kita coba kabur, lalu nyelinap ke kapal ketempat abangmu. Kau tau kan dimana abangmu?”

“Bang Ijaz di jawab”

“Jawa mana?”

Sukma tidak tahu. Dia hanya bisa menggelengkan kepala untuk pertanyaan dari sahabatnya ini.

.

.

Novel ini selesai aku baca Cuma dua malem doing. Jujur aku menikmati novel ini secara keseluruhan. Novel yang mengangkat tema keluarga, tentang kakak adik yang terpisah karena bencana Tsunami dan dengan segala keyakinan mereka mencoba bertemu. Tentu saja usaha mereka bertemu ini ga semudah membalikan halaman tiap novel. Kebyang kan, abangnya kuliah di ITB Bandung, terus udah hampi 4 tahun ga pulang. Otomatis memori mereka tentang wajah saudara udah samar. Ditambah lagi, Sukma ga tau pasti alamat kakaknya dimana. Ketika kenyataan pahit dia harus di culik dan dijual ke Manado.

Bandung – Aceh – Manado – Jakarta – Bandung.

Kalian bakal diajak jalan – jalan sama penulis. Oke kita bahas kelebihannya dulu dari novel ini.

Penuturan bahasa penulisnya Jempolan. Aku suka cara dia menjabarkan perasaan tiap tokoh, deksripsi keadaan sekitar atau sekedar Narasi pelengkap paragraph. Aku rasa dari semuanya ga ada yang sia – sia dan ga ada yang aku lewat (biasanya kalo penjelasannya ga asik aku suka lewat)

Bahasa yang Penulis gunakan juga konsisten. Dari awal sampe akhir pake bahasa baku yang diramu dan enak dibaca. Seriusan deh, kalimat percakpannya hidup.

Penjabaran tragedy dari awal sampe pertengahan novel runtut banget, aku kasih dua jempol. Sayang, dari pertengahan sampe akhir penulis nampaknya kejar target banget. Kerasa kalau dia nulis buru – buru jadi ilang rasa tiap tragedinya.

Sarat makna. Novel ini penuh banget ajaran dan petuah buat kita (terutama yang muslim). Jujur baca ini serasa jadi cambuk buat kita lebih baik. Aku merinding baca novel ini kalo inget sama apa yang udah aku lakuin sama hidup aku. Sejauh mana persiapanku untuk menjemput ajal? Apa kau sudah mencintai sang pencipta sampai kau bisa menikmati hidup dengan terus bersyukur? Asli ini bagai penyejuk buat hati. Terimakasih buat penulisnya, ini pengingat buat aku untuk hidup lebih baik lagi.

Penokohan yang kuat. Aku cinta bagaimana penulis menjabarkan mereka,

  • Iqbal sebagai sosok kakak yang kuat dan tangguh tapi dia juga masih manusia yang kadang bisa hancur. Sifat Iqbal seimbang, jadi ga susah buat bayangin dia di dunia nyata.
  • Firdaus yang setia kawab dan sifatnya yang luwes
  • Najla sosok perempuan idaman semua pria. Ga susah bayangin sosok najla dengan kerudung dan sifat shalehahnya. Jujur, ini jadi motivasi aku buat pengen kaya Najla dan dapet pendamping yang juga sholeh.
  • Sukma si adik kecik Iqbal yang menjadi dewasa dengan tempaan hidup yang dia terima.

Dan yang lainnya.

Ok, itu kelebihannya. Sekarang kekurangan novel ini.

Typo, masih banyak salah tulis. Kaya yang harusnya Sukma malah ditulis Zahra, kalo yang baca ga konsen bisa bingung. Ko kaya gini. Ya, meski Typo nya ga terlalu banyak sih.

Awal sampe tengah, kejadian masih bisa diterima nalar. Masih masuk akal. Tapi menjelang akhir, aku ngerasa semua yang terjadi terlalu dibuat – buat. Entahlah jadinya aku ngerasa cerita udah ga alami lagi, menjelang akhir kalian bakal disuguhi rentetan kejadian bak sinetron Indonesia. Sayang sekali. Bahkan kejadian yang menimpa Iqbal menurut aku bikin usaha dia selama ini sia – sia. Pembaca seakan, ya… cape baca ko gini.

Tokog utama? Siapa tokoh heroine disini. Aku mempertanyakan ini setelah insiden yang menimpa Iqbal. Hilang sudah tokoh utama, hilang juga nyawa ceritanya.

Ending. Ya, karena si tokoh heroine ilang, Endingnya berasa maksa. Dan menurut aku juga ini pilihan terbaik buat ending. Sungguh, sinetron sekali.

Maaf ya mba penulis.

.

.

Karya pasti ada plus minusnya kan? Dan menurut ku itu manusiawi. Terlepas dari kekurangan yang aku sebutin, novel ini masih layak buat jadi koleksi dan bacaan yang menyenangkan.

Novel ini mengajarkan kita untuk selalu ingat bahwa sang pencitpa ada bersama kita. Cintailah Dia, maka Dia akan mencintai kita juga.

Aku rekomendasiin ini buat kalian.

Rate : 6,5 of 10.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s