[2015#9] ‘Lapiz Lazuli’- Fenny Wong

[2015#9] ‘Lapiz Lazuli’- Fenny Wong


Title : Lapiz Lazuli (Sebuah Istana)
Penulis : Fenny Wong
No. ISBN : 978-602-7723-06-1
Jumlah Halaman : 359
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : Oktober 2012

.

.

Mengapa harus dia? Mengapa harus kita/ Sekeras apa pun aku berusaha, mengapa aku tetap tidak bisa melarikan diri dari takdir?

.

.

Gondvana dan Luraxia adalah dua kerjaaan yang sudah sejak lama berseteru. Perang beberapa tahun silam dengan kekalahan Gondvana, membuat Aran –pangeran Gondvana memiliki dendam tersendiri pada kerajaan Negara Dingin itu. Terlebih saat Aran melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Nilam –kakak perempuan Aran, harus menjadi upeti perdamaian dari Gondvana yang tidak lama kemudian terdengar Nilam mendinggal karena tersiksa.

Dendam Aran semakin besar.

Dia menginginkan peperangan kembali terjadi dengan berjanji dia akan meraih kemenangan dan merebut semua daerah kekuasaan Luraxia. Sebelum perang besar itu terjadi, Aran pergi ke Kitala –daerah bagian Gondvana untuk belajar ilmu bela diri. Aran harus menyiapkan semuanya, kemenangan melawan Luraxia juga tahta dari Ayahnya untuk menggantikan menjadi Raja.

Beberapa tahun kemudian sampai berita ke Luraxia bahwa Gondvana akan melakukan penyerangan dengan Aran sebagai pemimpin Lini barisan depan. Desmares bersaudara khawatir dengan kabar itu. Luraxia sudah berbeda sekarang. Ayah mereka –Raja Gallien yang membawa Luraxia pada kemenangan beberapa tahun silam telah tiada. Daerah kekuasaan pun sudah dibagi pada tiga anaknya. Balvier di Assori, Raufe di Prescia dan Hugues di Gentiu. Para pejabat disisi Ayahnya pun terbagi menjadi tiga sisi. Kondisi ini tentu akan menguntungkan Gondvana.

Setelah berdiskusi, akhirnya Desmares bersaudara setuju untuk melakukan perdamaian dengan mengirimkan Gondvana Perkamen yang akan mereka penuhi apapun permintaan itu. Gondvana setuju untuk tidak melanjutkan perang, tapi ada harga mahal yang harus dibayar Luraxia. Mereka menginginkan Putri Alreth Blancia sebagai upeti perdamian.

Raufe dan Hugues sangat tahu, kenyataan Arleth Blancia atau Lethia merupakan adik kesayangan Balvier yang tidak akan dia lepaskan. Tapi, melindungi satu jiwa untuk penduduk tiga kastil tidak setimpal bagi mereka. Akhirnya dengan sembunyi – sembunyi dari Balvier, mereka menculik Lethia dan mengirimnya ke Gondvana.

Berita pertukaran upeti itu membuat Aran kecewa. Dia sudah menghabiskan bertahun – tahun untuk penyerangan tapi Ayahnya menghentikannya dengan upeti berlian dan putri Alterh Blancia. Tapi tidak ditutupi, Aran penasaran denan Putri dari Luraxia itu. Pada hari kedatangan sang putri seagai upeti, Aran datang ke Kitala. Disana mereka bertemu. Sosok Putri dengan kulit putih pucat, mata biru dan rambut pirang khas Luraxia. Tapi ada yang menggungah Aran, tatapan yang meminta perlindungan.

Apa yang akan terjadi pada Aran dan Lethia? Ketika mereka hampir tiap hari bertemu dan menghabiskan waktu bersama di Lapiz Lazuli. Apa yang harus Lethia lakukan, ketika dia merindukan Kastil Assori dan kakaknya Balvier, tapi ada cinta yang menahannya di Lapiz Lazuli. Cinta Aran.

Lalu apa yang akan di lakukan Balvier, ketika tahu dua saudaranya berkhianat dengan membawa Lethia adik kesayangannya untuk Upeti perdamaian?

.

.

Review pembuka buat novel ini : Typo Everywhere….

Ini novel kedua dari Fenny Wong yang aku baca. Pertama Fleur dengan tema Eropa klasik dan sekarang Lapiz Lazuli dengan nuansa kerajaan mungkin agak nuansa timur tengah. Entah kenapa pas baca Lapiz Lazuli, settingnya berasa Kerajaan Frozen untuk Luraxia dan Kerajaan Aladin untuk Gondvana.

Untuk membedakan visualisasi warga dua kerajaan ini pun mudah. Luraxia identik sama dingin, kastil berujung lancip, mereka yang selalu berbalut jubah bulu, kulit putih, rambut pirang dan bola mata berwarna cerah.

Sedangkan untuk Gondvana yang daerahnya berada pada iklim tropis bahkan terbilang panas, warganya selalu menggunakan pakaian tipis. Kulit mereka coklat karena sinar matahari, rambut hitam, para lelaki bertelanjang dada, para wanita hanya berbalut kain sutra tipis. Bangunannya pun berbeda, di Gondvana ujung kastil berbentuk kubah bulat.

Dua kerjaan yang sangat berbeda latar belakangnya. Sempet kepikiran pas baca Novel ini, apa memungkinkan dua negara yang sangat beda ini berseteru? Soalnya kebayang sama aku dengan iklim yang jauh berbeda pasti jarak mereka jauh banget. Ini kebukti pas rombongan dari Prescia datang ke Birdaun –ibu kota Gondvana, perjalanan mereka hampir dua bulan. Dengan jarak sejauh itu apa mungkin? Tapi kalo diingat – ingat lagi, jaman dulu emang wajar untuk memperluas daerah kekuasaan sejauh mungkin. Jadi aku terima konflik dasar novel ini.

Satu yang menarik dari Fenny Wong ini, ada aja gitu idenya buat bikin nama – nama yang unik buat setting novel dia. Aku suka novel kaya gini, yang ngambil setting bener – bener imajinasi. Tapi itu dia, harus kreatif buat bikin nama tempat yang sesuai. Dan Novel Lapiz Lazuli ini keren banget buat pendeskripsian settinya.

Diliat dari jajaran nama, siapa yang bakal kepikiran nama kota : Algorab, Kitala, Birdaun, Prescia, Gentiu, Assori, dll. Nama orang – orangnya pun keren : Aran, Ramin, Lethia, Rastaban, Balvier, Seginus, dll. Serius, aku suka banget gimana Fenny Wong punya dunia sendiri untuk memulai ceritanya. Sama kaya di Novel Fleur, imajinasinya keren.

Tapi ini yang bikin susah pas baca Lapiz Lazuli, aku ga bisa lepas dari bayang – bayang Fleur. Entah kenapa nuansa Fleur kerasa banget pas baca Lapiz Lazuli, mereka gnere dan tema mereka berbeda. Karakternya juga 11-12.

Balvier – George. Posisi mereka sama – sama kakak si tokoh perempuan. Keduanya juga sayang banget sama si adik. Bisa dibilang juga lemah, plin plan dan ga tegas. Mirip banget dua tokoh ini. Bedanya, kalo George akhirnya jatuh cinta sama Florence, kalo Balvier engga, karena emang dia sama Lethia murni sayang kakak – adik. Tapi cara Balvier protektif sama Lethia, mengingatkanku pada George.

Lethia – Florence. Secara sifat? Ga terlalu banyak yang mirip antara mereka berdua. Tapi sama – sama bernasib buruk dan jadi tumbal cinta dua pihak. Kalo Florence bikin jengkel karena sifat plin – plannya, sedangkan Lethia bikin sebel karena cengen dan lemah banget. Apalagi pas dia udah pergi ganti jadi identitas baru tapi tetep bertindak kaya Lethia. Tapi ga se-annoying Florence.

Aran – Alford. Nah ini juga mirip banget. Cowo dingin, kejam tapi dia jatuh cinta diam – diam. Kalo Alford bisa dibilang antagonis, Aran lebih ke protagonis tapi sifa mereka sama. Sama banget – banget.

Makanya, ga bisa lepas dari bayangan mereka bertiga pas baca Lapiz Lazuli. Tiap adegan flasback Lethia – Balvier, jadi inget gimana Florence – George. Pas Aran mulai jatuh cinta sama Lethia juga keinget sama George. Ya, meski ga 100% sinkron, Cuma hawa – hawabnya masih kerasa.

Alur dan penceritaan. Bab awal sampe pas Aran pergi ke Benteng Tetys, Cuma butuh beberapa jam buat aku kebut. Kenapa? Seru banget ga bisa berhenti. Tapi adegan setelah itu yang bikin aku simpen buku –boring. Entah kenapa kondisi labih Aran dan Lethia karena LDR-an perang bikin boring. Karena tiba – tiba, Lethia rindu banget, galau Aran ga balik – balik. Mellow ala orang baru jatuh cinta deh.

Nah, udah lewat adegan penyerangan Lapiz Lazuli baru mulai memans, aku bahkan langsung tamatin tanpa bukunya disimpen dulu. Asik banget ceritanya, terlebih pas mereka perang. Dan sekali lagi aku terkesan pas adegan Aran sakit, terus adiknya Ramin ngirim surat. Satu jempol lagi buat Fenny Wong. Bisa banget gitu deskripsiin serangga – serangga di surat Rammin.

Ending? Aku suka gimana perang selesai. Tapi entah kenapa aku kecewa ketika… Ah, ini bakal Spoiler kalo ditulis. Intinya Bagus, Cuma ada satu hal yang bikin aku kecewa di ending.

Secara keseluruhan, I Love it!

Rate : 3,5 of 5.

.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s